Sabtu, 29 Juni 2013

Pengayaan LPDP Day#3 No specific Themes for this day :))

Pada hari ketiga pengayaan LPDP ini, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya yang setiap materinya seperti memiliki tema harian, hari ini  tema materi yang diberikan bisa dibilang sedikit campur-campur.. hehe

Pemateri pertama adalah Bapak Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi yang menyampaikan materi “pengenalan berbangsa dan bernegara”. Sementara Pemateri kedua adalah Bapak Imam Prasodjo                dengan tema “kepemimpinan berbasis indeks kepemimpinan nasional Indonesia”.

Dari kedua pemateri tersebut ada satu benang merah yang saya dapatkan bahwa bangsa Indonesia in imemang merupakan bangsa yang sangat majemuk, oleh karena itulah Bangsa Indonesia amat rentan akan risiko disintegrasi dalam setiap detik perjalanannya.

Seharusnya tidak ada lagi istilah istilah mayoritas ataupun minoritas dalam bangsa ini. sudah seharusnya kita melepaskan diri dari kooptasi kooptasi semacam itu,, karena sebuah bangsa yang majemuk akan selalu menuntut adanya kesamarataan diantara berbagai kelompok yang ada di dalamnya. Selain itu pemerintah juga harus bisa memfasilitasi dan merangkul semua kalangan terlepas dari berbagai variabel identitas diri mereka (agama, suku, warna kulit, bentuk rambut, dll), jangan sampai Pemerintah justru “menggilas” identitas mereka dan memaksakan untuk menggantinya dengan yang baru.

Hal lain yang cukup menarik adalah penekanan dari Pak Imam Prasodjo bahwa bangsa ini terlalu memberikan bobot yang berlebihan pada kapasitas ketimbang karakter, padahal para Founding Fathers bangsa ini telah menyadari bahwa karakter itu harus dibentuk terlebih dahulu sebelum dibekali dengan berbagai kapasitas diri. Pemahaman para Founding Fathers tersebut tercermin jelas pada lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya...” bukan “Bangunlah Badannya, Bangunlah Jiwanya.”

Sementara pada sesi terakhir yaitu sesi “academic writing” selain mendapat berbagai ilmu yang baru terkait penulisan karya ilmiah, saya mendapatkan suatu pesan yang amat berarti dari Prof Nasikin,, yaitu marilah kita semua lebih peka terhadap masalah-masalah yang ada di sekitar kita, dan jadikan diri kita bagian dari penyelesai dari berbagai masalah disekitar kita tersebut.

Pengayaan LPDP Day #2 Its about Corruption..



Seperti kita tahu, Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan reputasinya yang cukup tinggi di bidang korupsi. Menempati peringkat ke 118 hal Corruption Perception Index[1]seolah mencerminkan betapa buruknya sistem birokrasi yang ada di negeri ini. hal ini tentu menjadi PR besar bagi pemerintah Indonesia untuk memberantas korupsi yang ada di negeri ini.
Sebelum berbicara terkait solusi serta cara- cara yang bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan korupsi tersebut, akan sangat bijak apabila kita mengenal lebih dekat dahulu terkait korupsi itu sendiri. Korupsi  menurut Transperency Internatonal adalah penyalahgunaan dari suatu kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Sementara menurut Cressey (1973) terdapat tiga kondisi yang harus terpenuhi untuk memicu salah seorang untuk melakukan tindakan korupsi (fraud) yaitu (i) Pressure; (ii) Opportunity (iii) rationalization.

Pressure (Tekanan)
Cressey menjelaskan tekanan sebagai pemantik awal yang memotivasi seseorang untuk bertindak korup. Ketika seseorang memiliki permasalahan terutama dalam hal finansial melalui cara-cara yang dibenarkan, maka ia akan mulai mempertimbangkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan melakukan tindakan yang bersifat ilegal. 

Opportunity (Kesempatan)
Opportunity diartikan oleh Cressey sebagai sebuah metode yang membuat tindakan ilegal tersebut dapat dilakukan. Orang yang ingin bertindak korup harus menemukan cara untuk menyalahgunakan posisi yang ia miliki dengan resiko yang kecil untuk dapat dketahui oleh pihak yang berwenang. Seringkali orang yang melakukan tindakan korupsi didasari motif untuk menjaga statusnya yang tinggi di masyarakat dari permasalahan finansial yang mereka hadapi. Oleh karena itulah menjadi sangat krusial bagi mereka untuk menjaga kerahasiaan dari tindakan ilegal yang mereka lakukan. Hal ini disebabkan pabila tindak mereka terkuak dan diketahui oleh masyarakat luas, maka itu akan menyakiti status sosial mereka seperti halnya dengan permasalahan finansial yang mereka coba atasi dengan tindakan korupsi.

Rationalization (Rasionalisasi)
Hal yang menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Cressey adalah banyak dari para pelaku korupsi yang merupakan orang-orang tanpa sejarah kejahatan sebelumnya. Mereka menganggap diri mereka sebagai seseorang yang terjebak di tengah situasi yang buruk. Sebagai konsekwensinya, mereka melihat korupsi sebagai sesuatu yang legal, wajar lumrah dan tidak melanggar hukum. Beberapa rasionalisasi yang umum dalam tindak korupsi adalah:
1.       Saya hanya meminjam uang tersebut
2.       Saya membutuhkan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya
3.       Saya dibayar lebih rendah dari yang seharusnya, atasan sayalah yang sebenarnya mencurangi saya

Yang membuat permasalahan korupsi di negeri ini semakin pelik adalah karena kesempatan melakukan korupsi bukan lagi sesuatu yang didapat oleh seseorang dengan mencarinya secara sembunyi-sembunyi dengan sebisa mungkin tidak diketahui oleh orang lain. Akan tetapi kesempatan untuk melakukan korupsi di Indonesia merupakan situasi yang secara bergotong royong diciptakan oleh para pemangku kekuasaan. Pada kondisi yang sudah seperti ini, saya berkeyakinan bahwa tidak perduli seberapa jujur orang baru yang masuk ke dalam sistem yang sudah ada, akan sangat sulit baginya untuk bisa terbebas bersih sama sekali dari tindak korupsi. Kalaupun ia bisa,, biasanya orang tersebut akan “tersingkir” dari sistem yang ada.

Oleh karena itulah diperlukan perombakan yang drastis pada sistem yang ada di Indonesia, dari mulai pemerintah serta aparat penegak hukum. Perubahan drastis dalam sistem tersebut juga harus didukung oleh penyegaran besar-besaran dari tenaga SDM yang ada di sektor tersebut. Terkadang saya berfikir, cukuplah sisakan satu atau dua dari tiap bidang strategis di pemerintahan dari generasi yang korup ini, lalu sisanya masukkan bibit-bibit baru yang diyakini memiliki integritas dan mampu mengambil ilmu yang dibutuhkan. 

Lalu bagaimana dengan orang2 lain para pemain lama dari generasi yang korup tersebut? sudah lah, pensiunkan saja mereka, berikan uang pensiun penuh sesuai dengan gaji mereka ketika masih bekerja. Jelas ada tambahan biaya bagi negara untuk membiayai pensiun dari generasi korup tsb. Tapi saya pikir itu jauh lebih baik karena kerugian negara tersebut menjadi terukur dan tidak berkelanjutan, ketimbang membiarkan generasi bermental korup itu terus mewariskan mental korupnya kepada generasi penerus yang ada melalui sistem yang telah mereka distorsi sedemikian rupa.



[1] http://www.transparency.org/cpi2012/results

Pengayaan LPDP Day #1 Pertemuan dengan Orang-Orang Inspiratif



Kurva eksponensial.. kurang lebih begitulah fluktuasi emosi serta semangat saya di hari ini. ya,, pada awalnya saya tidak begitu menganggap spesial akan proses pengayaan calon penerima beasiswa pendidikan Indonesia yang diberikan oleh Lembaga Pengelola Pendidikan yang berada di bawah otoritas Kementrian Keuangan Republik Indonesia ini. apalagi setelah beberapa hari yang lalu saya mengetahui bahwa lokasi dilakukan pengayaan ini tidak lain dan tidak bukan adalah Graha Insan Cita (GIC) yang usut punya usut masih satu kelurahan dengan rumah saya di Depok.. hehe,, tapi seiring dengan berjalannya mata acara,, waah,, antusias saya terus melejit bung!!

Pada materi pertama, pemaparan materi ternyata disampaikan langsung oleh para direksi LPDP. Hufh.. Membayangkan para PNS dan birokrat akan menyampaikan materi,, saya sudah bersiap2 berperang melawan hasrat buat tidur yang selalu menyerang kala mendengar “orasi” dari abdi pemerintah semasa hidup saya.. namun di luar dugaan, ternyata Para direksi LPDP bisa begitu cair dalam menyampaikan beasiswa,, bahkan sering tawa penonton berhasil dipancing oleh mereka. Sangat salut saya terhadap para direksi tersebut, sedikit banyak mereka bisa mengubah imej negatif dari PNS di benak saya,, hehe 

Jika bicara soal content materinya, yang membuat saya salut dari LPDP ini adalah bukan karena sekedar mereka memiliki visi yang begitu besar dalam pembentukan karakter pemuda Indonesia di masa datang,, akan tetapi lebih disebabkan oleh kemampuan LPDP untuk membuktikan kesungguhan mereka dalam mewujudkan visi tersebut. pola rekrutmen beasiswa yang jelas dan tidak amigu, jadwal tahapan seleksi yang relatif tepat waktu, serta keprofesionalan LPDP dalam mengolah dana yang mereka miliki baik dalam bentuk berbagai investasi serta mencoba secara serius untuk menjajaki pihak donor lain seperti Amerika dan Jepang begitu menggambarkan keprofesionalan dari Lembaga ini yang seharusnya sangat bertentangan dengan imej birokrasi pemerintah yang lambat dan tidak efisien.

Orang Inspiring berikutnya adalah pemateri kedua di hari ini yang bernama Goris Mustaqim, sang pendiri dari sebuah usaha dan gerakan bernama Asgar Muda. Waduuh.. setelah mendengarkan pemaparan dari beliau tentang apa saja yang beliau sudah perbuat buat bangsa ini,, beneran deh kita ngerasa cupu abis bro. Bayangin aje,, di usia yang baru tiga puluh tahun,, Bang Goris ini udah inisiasi banyak banget program sociopreneur buat berdayain banyak orang,, berikut nih apa aja yang udah beliau kerjakan:
-         Pendidikan untuk anak2 Garut agar bisa masuk PTN 
-         Inkubator kewirausahaan untuk anak2 muda Garut 
-          Comdev dengan gerakan Investasi Pohon 
-          Lembaga keuangan mikro berbentuk Baitul Maal wa Tamwiil (BMT)


Bang Goris ini bener2 bikin saya geregetan,, soalnya sudah sejak lama saya punya keinginan untuk bisa buat suatu gerakan sosial,, eh beliau malah udah bikin seabrek-abrek..

Maka kalau harus memilih satu kata yang paling menggambarkan perasaan saya di hari ini tidak lain adalah INSPIRING !!